Category Archives: Psikology

Tahukah Anda : MUSIK ADALAH PENGASUH KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA…?

music-baby3Pada era akhir abad 20 ini, sejumlah pakar Ilmu Pengetahuan telah memperoleh berbagai bukti tentang Manfaat Musik bagi kesehatan dan perkembangan manusia, mulai dari proses perkembangan Janin sampai pada proses Menjelang Kematian. Musik merupakan salah satu bentuk Stimulus yg dapat merangsang respon bayi pada saat awal kehidupan mereka dan merupakan salah satu bentuk stimulus Terakhir yg dikenal seseorang pada saat menjelang ajalnya (Habermeyer,1999).

Perkembangan kehidupan manusia membutuhkan PENGASUHAN, tanpa Pengasuhan yg LAYAK potensi2 yg dimiliki oleh manusia tidak akan berkembang dengan baik. MUSIK merupakan salah satu sarana yg dapat digunakan untuk MENGASUH manusia dalam Proses Perkembangannya (Ortiz,1999).

Bukanlah merupakan sesuatu hal yg asing apabila seorang ibu bersenandung Nina-Bobo untuk menidurkan anaknya. Bukanlah sesuatu yg asing pula jika pengasuh menyanyikan lagu tertentu untuk membawa anak asuhnya kedalam keceriaan.

Murphy, 1998 ; mengemukakan bahwa Hubungan Manusia, khususnya hubungan ortu dan anak akan menjadi LEBIH BAIK jika komunikasi antara mereka TIDAK dibatasi oleh komunikasi Verbal saja. Adanya komunikasi Non-Verbal seperti Sentuhan, Belaian, serta Senandung merupakan bentuk yg amat baik untuk diterapkan di dalam Pola Pengasuhan Anak. Disamping itu musik memiliki dampak terapeutik dalam pengasuhan, karena musik tidak hanya memberi dampak pada subyek yg diasuh tetapi juga pada pengasuh. Pemanfaatan musik dalam program pengasuhan (MTC = Music Therapeutic Caregiving) merupakan salah satu bentuk program dimana Pengasuh (misalnya) menjadi model penyanyi dan anak asuh mengikuti perilaku model untuk menyanyi. Proses ini melibatkan aspek Ketaatan dan Perkembangan Nalar (seperti dengan mengingat syair serta memadu syair dengan gerak tertentu) ; dan juga merangsang perkembangan Emosional yakni hubungan Pengasuh dan Anak Asuh.

Di dalam program pengasuhan anak, musik dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk Belajar. Misalnya anak dapat belajar menghafal dengan bernyanyi, anak dapat belajar mengucapkan doa-doa sambil bernyanyi. Melalui aktivitas bernyanyi, anak dibawa ke alam Kegembiraan ; dan dalam suasana gembira Proses Belajar akan berlangsung lebih baik dibandingkan dengan proses belajar dengan Keharusan dan Paksaan.

Di dalam konteks Hubungan Sosial, musik juga merupakan sarana pengasuhan hubungan sosial. Pada budaya tradisional, pertemuan muda – mudi biasanya disertai dengan hadirnya musik baik dalam acara sosial bersama keluarga maupun dalam situasi resmi spt pernikahan. Terlebih dalam budaya Modern, dimana sarana musik dapat diperoleh dengan lebih mudah, lebih banyak suasana sosial muda – mudi yg disertai dengan kehadiran musik, baik sebagai latar belakang aktivitas mereka maupun sebagai tema sentral. Singkatnya, Musik menjadi salah satu PENGIKAT hubungan Sosial remaja yg bersifat mengasuh kelangsungan hubungan sosial tersebut. O`Neil (2000) secara tegas mengemukakan bahwa musik penting bagi perkembangan remaja karena musik memberi kesempatan pada remaja untuk mengembangkan imajinasi sosial mereka disamping merupakan sarana untuk memuaskan kebutuhan sosial para remaja.

Pada Usia Senja, ketika seseorang tengah memasuki rasa kesepian karena anggota keluarga yang lain telah meninggalkan rumah, atau ketika pasangan hidup sudah tidak ada lagi, Musik mampu meberikan nuansa yg berbeda dalam kehidupan pribadi seseorang. Tanpa musik, mungkin rasa sepi akan terasa semakin menyayat, namun dengan musik, kegalauan akan rasa sepi akan dapat terkurangi bahkan terobati. Adakalanya, musik mampu mengingatkan seseorang pada peristiwa – peristiwa indah dimasa lampau yang memberikan semangat baru untuk terus menjalani hidup dengan baik.music-care3

Musik merupakan sarana yang Mengasuh kelangsungan hidup manusia.

——————————————————————————————————————-

Disarikan dari berbagai sumber :

  1. Monty P. Satiadarma (2002). Terapi Musik. Milenia Populer, Jakarta.
  2. http://www.terapimusik.info/
  3. http://siar.endonesa.net/utty/2008/10/15/terapi-musik/
Advertisements

KONSEP DIRI

KONSEP DIRI

Konsep Diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1991).Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai – nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.
Lebih jauh, Beck, Willian & Rawlin (1986) menjelaskan bahwa Konsep Diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual.
Secara umum disepakati bahwa Konsep Diri belum ada saat lahir. Konsep Diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Perkembangan konsep diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara. Nama dan panggilan anak merupakan aspek Bahasa yang utama dalam membantu perkembangan identitas. Dengan memanggil nama, anak mengartikan dirinya istimewa, unik dan mandiri.
Konsep Diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya.Keluarga mempunyai peranan yang penting dalam membantu perkembangan Konsep Diri terutama pada pengalaman masa kanak – kanak. Menurut Combs & Snygg, pengalaman awal kehidupan dalam keluarga merupakan dasar pembentukan Konsep Diri. Keluarga dpt memberikan :
1. Perasaan mampu atau tidak mampu
2. Perasaan diterima atau ditolak
3. Kesempatan untuk identifikasi
4. Penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku dan nilai.

Suasana keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan yang positif akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan yang positif dan berarti. Penerimaan keluarga akan kemampuan anak sesuai dengan perkembangan dirinya sangat mendorong aktualisasi diri dan kesadaran akan potensi dirinya. Tidak dianjurkan menggunakan kata – kata : “JANGAN” , “TIDAK BOLEH” , “NAKAL” tanpa Penjelasan lebih lanjut.
Dapat disimpulkan bahwa KONSEP DIRI merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan Konsep Diri yang POSITIF dapat berfungsi lebih efektif, yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep Diri yang NEGATIF dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang maladaptif.
Konsep diri terdiri dari 5 komponen, yaitu :
1. Gambaran Diri (Body Image)
2. Ideal Diri
3. Harga Diri
4. Peran
5. Identitas Diri.

GAMBARAN DIRI
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu. Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima reaksi dari tubuhnya, dan menerima stimulus dari orang lain. Kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan. Gambaran diri berhubungan erat dengan Kepribadian. Cara individu memandang diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistik terhadap diri, menerima dan manyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri. Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses didalam kehidupan. Persepsi dan pengalaman individu dapat merubah gambaran diri secara dinamis.

IDEAL DIRI
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkannya atau sejumlah aspirasi, cita – cita, nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga; budaya) dan kepada siapa ia ingin lakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak – kanak yang dipengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan tuntutan atau harapan. Pada usia remaja, ideal diri akan dibentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri, diantaranya adalah :
1. Kecenderungan individu menetapkan ideal diri pada batas kemampuannya.
2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri. Kemudian standar ini dibandingkan dengan standar kelompok teman.
3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil ; keinginan untuk menghindari kegagalan ; perasaan cemas dan rendah diri.

Semua faktor di atas mempengaruhi individu dalam menetapkan ideal diri. Individu yang mampu berfungsi akan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri, sehingga ia akan tampak menyerupai apa yang ia inginkan. Ideal diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi tapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai.

HARGA DIRI
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.
Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu selalu sukses, maka cenderung harga diri tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah.
Aspek utama harga diri adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain. Manusia cenderung bersikap negatif, walaupun ia cinta dan mengakui kemampuan orang lain namun jarang mengekspresikannya.
Coopersmith menguraikan 4 cara meningkatkan harga diri pada anak, yaitu :
1. Memberi Kesempatan Berhasil

Beri tugas yang memungkinkan dapat diselesaikan, kemudian beri pengakuan dan pujian akan keberhasilannya. Jangan memberi tugas yang sudah diketahui tidak akan dapat diselesaikan.
2. Menanamkan Gagasan.
Berikan gagasan yang dapat memotivasi kreatifitas anak untuk berkembang.
3. Mendorong Aspirasi.
Pertanyaan dan pendapat anak perlu ditanggapi dengan memberi penjelasan yang sesuai. Berikan pengakuan dan sokongan untuk aspirasi yang positif sehingga anak memandang dirinya diterima dan bermakna.
4. Membantu Membentuk Koping.
Pada tiap tahap perkembangan, individu mempunyai tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Individu perlu mengembangkan koping untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi dalam penyelesaian tugas.

PERAN
Peran adalah pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
Banyak faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus dilakukan (Stuart & Sundeen, 1991) :
1. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran.
2. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan.
3. Kesesuaian dan keseimbangan antar peran yang diemban.
4. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
5. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran.

IDENTITAS
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin. Identitas jenis kelamin berkembang sejak bayi secara bertahap.

Konsep diri merupakan konsep kritis yang harus dimengerti oleh semua profesi yang berhubungan dengan Manusia (Helping Profession).